Ekbis

Rabu, 28 Oktober 2020 - 09:27 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, melaunching Minyak Kelapa Pintu Air di Rotat, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Didampingi Bupati Sikka, Fransiskus R. Diogo, Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Jakobus Jano dan Manajer Pintar CCO Production, Berno Letepung. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, melaunching Minyak Kelapa Pintu Air di Rotat, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Didampingi Bupati Sikka, Fransiskus R. Diogo, Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Jakobus Jano dan Manajer Pintar CCO Production, Berno Letepung. (Foto: Yeremias Y. Sere)

KSP Kopdit Pintu Air Produksi Minyak Kelapa

Sikka, Detakterkini.com – Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi, melaunching Minyak Kelapa Pintu Air, yang diproduksi oleh Pintar Crude Coconut Oil (CCO) Production – Rotat, milik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air, Rabu (28/10/2020).

Wagub Josef, dalam sambutannya mengaku bangga dan berterima kasih kepada KSP Kopdit Pintu Air yang sudah membuat sebuah terobosan baru, dengan memproduksi Minyak Kelapa Pintu Air. Menurutnya, koperasi bukan hanya untuk simpan pinjam, tapi harus membuat sesuatu yang lebih nyata dan bisa dinikmati semua masyarakat.

“Saya bangga dan sangat luar biasa sekali, karena ini sesuai dengan visi dan misi dari Pemerintah NTT,” katanya.

Ia mengatakan, KSP Kopdit Pintu Air telah membuat sebuah terobosan baru dengan melihat kebutuhan masyarakat dunia. Masyarakat dunia sekarang sudah jenuh dengan minyak kelapa sawit, sehingga mereka kembali dengan minyak yang asli yaitu minyak kelapa yang merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang.

“Orang luar melihat NTT sangat kaya, tetapi kita di dalam tidak bisa memanfaatkan itu. Untuk itu, hal-hal yang diberikan oleh nenek moyang kita, lakukan improvisasi, lakukan riset dan penelitian agar memenuhi standar internasional,” imbaunya.

Ia menambahkan, omset untuk koperasi di seluruh NTT sebesar Rp 10 Triliun lebih, sementara uang yang beredar sekitar Rp 3 sampai Rp 5 Triliun. Sehingga, kita juga harus memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada koperasi, apalagi dengan koperasi yang memiliki omset Rp 1 Triliun seperti KSP Kopdit Pintu Air.

Ia menjelaskan, sejauh ini, Pemerintah NTT baru melakukan pemasaran terhadap dua komoditi yaitu kopi dan kelor, dengan cara mengirim kepada 400 Misionaris NTT yang ada di seluruh dunia dan para Misionaris itu pun bersedia memasarkan produk-produk dari NTT tersebut. Sehingga, pihaknya akan bekerja sama dengan pihak KSP Kopdit Pintu Air untuk membantu memasarkan hasil produksinya keluar negeri.

“Waktu boleh berubah, tetapi kita harus berubah di dalamnya, dibutuhkan kreatifitas dan inovatif. Terima kasih kepada KSP Kopdit Pintu Air, waktu boleh berubah tetapi kalian sudah berubah di dalam waktu yang berubah itu,” jelasnya.

Senada, Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mengaku bangga dengan produksi Minyak Kelapa Pintu Air itu. Baginya, masyarakat Sikka sudah berubah dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri.

Ia mengatakan, pihaknya akan terus mendukung apa yang dilakukan pihak KSP Kopdit Pintu Air, dengan membuat kebijakan agar kelapa gelondongan tidak dijual lagi keluar, tetapi diproduksi dan dimanfaatkan untuk kepentingan di dalam daerah.

Menurutnya, kelapa mempunyai nilai kesehatan yang tinggi  dan merupakan warisan leluhur yang harus tetap dipertahankan. Pihaknya juga bangga karena hingga saat ini, banyak warga Kabupaten Sikka memilih untuk berkoperasi.

“51% Warga Sikka sudah masuk di koperasi. Jadi kalau sampai 70% yang masuk koperasi, berarti kita tidak perlu investor lagi, karena kita adalah investor,” bebernya.

Sementara itu, Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Jakobus Jano, mengatakan, Minyak Kelapa Pintu Air lahir dari keprihatinan pihaknya terhadap Nelayan Tani Ternak Buruh (NTTB) karena selalu diabaikan dalam segala hal, kecuali sumbangan atau mendapatkan bantuan. Momentum Sumpah Pemuda dipilihnya untuk melaunching Minyak Kelapa Pintu Air. Karena menurutnya, moment tersebut merupakan sebuah kebangkitan dan kemampuan yang diberikan dengan pernyataan yang riil dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Kita mau launching, kemarin Menteri Koperasi dan UKM sempat mampir ke tempat kami dan mengatakan Minyak Kelapa Pintu Air ini bakal jadi icon dunia, bukan icon Indonesia. Karena dunia sekarang beralih dari minyak sawit ke minyak kelapa,” terangnya.

Ia menyampaikan, pihaknya juga membangun produksi minyak kelapa ini dengan kemampuan yang seadanya. Sehingga, Ia mengharapakan agar semua masyarakat NTT harus tetap optimis ketika mau berusaha dan harus lebih giat lagi dalam bekerja.

“Jangan anggap kita ini tidak punya nilai, kita semua mempunyai nilai dan harus kerja lebih keras lagi. Terbukti, hari ini kami launching Minyak Kelapa Pintu Air karena merupakan hasil jerih payah kerja keras,” tuturnya.

Ia menambahkan, sejauh ini, pihaknya juga sudah mengusulkan ke pihak Pertamina untuk membuka dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) yaitu di Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka dan juga di Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Gubernur NTT juga sudah memberikan rekomendasi kepada pihaknya untuk membuka SPBU tersebut.

“Dalam waktu dekat ini, kami mungkin mendapatkan minimal satu SPBU, kalau dapat dua SPBU itu sangat luar biasa dan merupakan campur tangan Tuhan,” jelasnya.

Sedangkan, Manajer Pintar Crude Coconut Oil (CCO) Production, Berno Letepung, menjelaskan, total produksi minyak kelapa untuk sehari sebanyak 300 Kg. Sedangkan total produksi awal dari tanggal 17 Agustus 2020 sampai sekarang sudah mencapai 18 ton lebih minyak kelapa.

Ia menambahkan, untuk kesiapan produk lokal, semua harus diedukasi kembali, khususnya petani kelapa, yang diedukasi untuk membagi antara produksi kelapa dalam bentuk gelondong, kopra dan minyak kelapa. Sementara untuk segmen pasar, yang pertama adalah Anggota KSP Kopdit Pintu Air, karena sektor riil ini didukung oleh anggota dan setelah itu targertnya untuk masyarakat umum.

Ia menyampaikan, untuk pengembangan strategi ke depan selain di Kabupaten Sikka, pihaknya harus melakukan advokasi ke semua pemerintah kabupaten lainnya, demi melakukan pengembangan sebuah instrumen hukum agar bisa menjaga dan melakukan pengontrolan kelapa, khususnya di wilayah masing-masing. Lanjutnya, ada pengembangan lagi melalui Peraturan Desa (Perdes) atau Peraturan Daerah (Perda) agar bahan baku tidak segampang dan tidak cepat keluar dari wilayah tersebut.

“Rencananya, pengembangan ini harus berjalan beriring dengan semua stakeholder, khususnya pemerintah, NGO, pelaku usaha dan yang lainnya agar bahan baku ini bisa dikawal dengan baik, demi menjadi bahan baku pengembangan sektoral secara terpadu di KSP Kopdit Pintu Air.

Minyak Kelapa Pintu Air yang sudah dibuat dalam kemasan tersebut, dijual dengan harga Rp 35.000 per liter dan Rp 175.000 per lima liter. Jika ada masyarakat yang ingin membeli, bisa langsung membelinya di Kantor Cabang Pintu Air terdekat. (ric)

Artikel ini telah dibaca 319 kali

Baca Lainnya
x