Ekbis Pertanian

Selasa, 8 September 2020 - 04:47 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Direktur BOP-LBF, Shana Fatina dan Ketua MPIG, Jhoseph Janu, usai menandatangani MoU di Kafe Lokal Bacarita Kawasan Marina Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (7/9/2020). (Foto: Humas BOP-LBF)

Direktur BOP-LBF, Shana Fatina dan Ketua MPIG, Jhoseph Janu, usai menandatangani MoU di Kafe Lokal Bacarita Kawasan Marina Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (7/9/2020). (Foto: Humas BOP-LBF)

BOP-LBF dan MPIG Jalin Kerja Sama Berdayakan Petani Kopi

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOP-LBF) membangun kerja sama dengan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama dan Peran Serta dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Bidang Kepariwisataan melalui Pengelolaan Komoditas Unggulan Kopi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bertempat di Cafe Lokal Bacarita kawasan Marina Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Flores, NTT, Senin (7/9/2020) sore.

Direktur BOP-LBF, Shana Fatina, mengatakan, kerja sama itu merupakan sebuah langkah inovatif pariwisata yang melibatkan peran aktif para petani kopi di daratan Flores, secara langsung mendorong terciptanya destinasi wisata baru. Sebagai langkah awal, tiga kabupaten di Manggarai Raya yakni, Manggarai Timur (Matim), Manggarai dan Manggarai Barat (Mabar) akan menjadi lokomotif destinasi wisata kopi.

“Senang sekali karena sebentar lagi kita akan punya showcase/etalase kopi di Labuan Bajo. Bekerja sama dengan rekan-rekan MPIG, etalase ini akan menampilkan seluruh jenis biji kopi yang ada di Flores dan sekaligus menjadi pusat informasi dan promosi kopi Flores,” ujarnya.

Shana, mengharapkan, kerja sama pengembangan wisata baru dengan MPIG ini, menjadi gerbang awal bagi kelompok petani kopi Flores, khususnya tiga Kabupaten Manggarai Raya yang tergabung dalam MPIG, untuk dapat bersama-sama menjaga agar kopi lokal tidak kehilangan identitas aslinya. Melalui berbagai pelatihan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) petani kopi, Dia berharap para petani mampu memproduksi kopi dengan kualitas yang bagus.

“Ini juga merupakan salah satu bentuk komitmen BOP-LBF mewujudkan Labuan Bajo dan Flores secara keseluruhan menjadi gerbang ekowisata dunia. Membangun pariwisata berbasis masyarakat, salah satunya melalui eksistensi para petani kopi,” ugkapnya.

Shana, mengimbau, melalui kerja sama dengan MPIG, kopi bukan lagi sekadar produk kuliner, tetapi merambah menjadi produk wisata experience yang menawarkan pengalaman menikmati varian konsep wisata kebun dengan segmen, mulai dari pengenalan berbagai jenis kopi hingga mengenali budaya masyarakat petani kopi seperti yang bisa ditemui di Lembah Colol.

Senada, Ketua MPIG, Joseph Janu, menerangkan, pengembangan destinasi wisata baru kopi akan membawa angin segar, selain bagi pariwisata daerah, juga bagi para petani kopi di tiga kabupaten di Manggarai Raya, serta bagi para wisatawan minat khusus yang punya ketertarikan dengan kopi.

“Yang jelas, akan banyak sekali dampak positif dari kerja sama ini. Yang utama adalah bagaimana membuat kopi menjadi destinasi wisata baru yang ada di tiga kabupaten di Manggarai Raya, dan Labuan Bajo sebagai etalase kopi, sekaligus menjadi pusat informasi dan promosi kopi. Inilah yang menjadi titik awal dari MoU ini,” tegasnya.

Lokasi Destinasi Wisata Baru Kopi

Sekretaris MPIG, Boni Romas, menerangkan, lokasi pengembangan destinasi wisata baru kopi tersebut akan berada di empat titik, di tiga kabupaten di Manggarai Raya.

Di Kabupaten Matim, terletak di Mano dan Colol, dengan fokus pengembangan masing-masing, Mano menjadi pusat arabika dan Colol sebagai aset besar budaya kopi Manggarai sekaligus menjadi pusat festival budaya kopi.

Di Kabupaten Manggarai, terletak di Wae Garit. Di sana, akan ditata sebagai pusat robusta. Sementara, di Kabupaten Mabar yang berlokasin di Labuan Bajo, akan menjadi etalase pusat informasi dan promosi seluruh jenis biji kopi Flores, bukan berupa kebun.

Dari empat lokasi tersebut, dua lokasi yang terletak di Mano seluas 10 Ha dan di Labuan Bajo yang akan menjadi rencana etalase Pusat Informasi dan Promosi Kopi, merupakan lahan milik Keuskupan Ruteng yang disiapkan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata baru. Hal Ini sekaligus sebagai bentuk dukungan gereja terhadap upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya para petani kopi.

Sementara, dua lokasi lainnya merupakan lahan kopi milik masyarakat yang akan didampingi oleh MPIG, melalui berbagai pelatihan guna memperkuat kapasitas SDM petani kopi agar mencapai kualitas kopi yang memenuhi standar.

Kelompok petani kopi yang tergabung dalam MPIG tersebar di tiga kabupaten di Manggarai Raya. Di antaranya, 50% di Kabupaten Matim, 30% di Kabupaten Manggarai dan 20% di Kabupaten Mabar, dengan karakter masing-masing sesuai dengan kontur wilayah setempat dimana kopi tersebut tumbuh. (yrh)

Artikel ini telah dibaca 266 kali

Baca Lainnya
x